Jaringan Super RT/RW-Net

Apa sih sih jaringan Super RT/RW-net itu? Yang pasti bukan RT/RW-net yang dikendalikan oleh admin Superman atau superhero lainnya ;))
Sebenarnya ini hanya istilah saya untuk menggambarkan kemampuan sebuah RT/RW-Net dalam hal jangkauan  operasional dan pusat dari sebuah jaringan yang besar atau bisalah kita sebut WAN (Wide Area Network) didorong dengan semangat gotong-royong. ;D

Jadi begini, kita langsung bermain dengan contoh simulasi saja biar mudah. Misalkan saya mendapatkan proyek untuk membangun sebuah BTS RT/RW-net di kecamatan Bekasi Selatan termasuk dalam wilayah kota Bekasi. Rencananya apabila BTS RT/Rw-Net berhasil dengan baik, maka kemungkinan BTS RT/RW-net ini akan menjadi pusat bandwidth internet broadband yang akan disalurkan melalui beberapa titik ke luar kota, dari kota bekasi menuju Karawang. Hal ini dikarena titik-titik yang akan disebar ini merupakan wilayah sub-urban dan rural yang koneksi akses internet broadband masih belum memadai infrastruktunya. Ada 3 buah titik yang akan disalurkan bandwidth internet rencana akan dibangun server untuk masing2 titik. Jarak titik pertama 12km dari BTS RT/RW-Net di kota Bekasi. Titik 2 berjarak 10km dari titik 1, sedangkan titik terakhir berjarak hingga 15km dari titik 2 di wilayah Karawang.

Maka saya merancang sebuah model topografi sederhana dari BTS RT/RW-Net dan BTS-BTS di ketiga titik sebaran tersebut.


contoh model topografi BTS RT/RW-Net.

Dari model topografi di atas, skenarionya adalah BTS-RT/RW-Net di kota Bekasi adalah sebagai pusat server bandwidth internet broadband, karena di wilayah ini mudah saja menemukan provider yang menawarkan akses internet broadband dengan media yang beraneka ragam seprti via ADSL, WiFi, TV Kabel, 3G/3.5G/HSDPA, dan yang lainnya. Namun tidak dengan wilayah yang akan dibangun BTS-BTS repeater. Bandwidth internet ini akan disebar ke 3 titik BTS yang menuju wilayah Karawang.
Sedangkan untuk model 3 titik BTS yang akan disalurkan bandwith memiliki model sebagai berikut:


contoh model topografi 3 titik BTS yang akan disebar.

Dari model topografi di atas, skenarionya BTS-BTS ini akan saling bersambung sebagai Repeater untuk menyalurkan bandwidth internet dari dari wilayah perkotaan hingga ke wilayah daerah kabupaten yang tidak terlalu padat penduduknya. Setiap BTS diberikan kemandirian untuk memilik server masing-masing untuk mensharing kebutuhan bandwidth internet di wilayahnya masing-masing. Sebagai tambahan akan lebih baik jika tiap-tiap BTS memiliki koneksi internet cadangan yang apabila sumber dari BTS di Bekasi bermasalah.

Untuk pembahasan biaya masing perangkat untuk tiap-tiap BTS, rekan-rekan bisa melihat simulasi-simulasi sebelumnya sebagai refernsi. Untuk sekarang kita akan melihat bagaimana kita bisa memanajemen sumber bandwidth internet yang besar dari berbagai media yang disalurkan dari ISP (sisi hardware tentunya).

Router Load Balancer

Apa itu Router Load Balancer? Adalah router yang mempunyai fitur “load balancing”. Prinsip sederhanya yaitu menggabungkan bandwidth dari beberapa gateway WAN (internet) untuk bisa disalurkan ke gateway keluaran LAN. Fitur ini biasanya sekaligus melakukan fungsi “fail over”, arti sederhana fitur ini yaitu apabila ada gateway dari jalur WAN yang terputus, maka gateway dari jalur WAN yang lain akan tetap berfungsi menyalurkan bandwidth internet ke LAN (tetap routing ke gateway WAN yang aktif).

Mengapa kita perlu Router Load Balancer ini?
KLo kita lihat model topografi simulasi RT/RW-net dalam kasus ini, terlihat bahwa BTS di bekasi sebagai sentral bandwidth internet dari banyak gateway… tentu saja perlu penanganan khusus untuk mengatur bandwidth-bandwidth ini agar lebih mudah untuk menyalurkannya ke BTS-BTS lain, dan tentu saja juga berpengaruh pada kecepatan akses internet. Apalagi jika sewaktu-waktu ada 1 atau beberapa gateway internet tiba-tiba putus, tentu sebagai admin akan agak kerepotan, jika harus mengganti secara manual gateway-gateway internet ke klien kita.

Umumnya ada dua jenis model Router Load Balancer yang bisa kita gunakan.

1. Router Load Balancer Built-in
Router jenis ini adalah router buatan pabrikan yang di mana hardwarenya sudah terisi dengan firmware (software) yang siap untuk digunakan, dan tersedia dengan berbagai merk.



contoh model-model Router Load Balancer built-in

Harga router built-in ini sekitar mulai dari di atas 1 juta rupiah hingga ada yang mencapai 6 juta bahkan bisa jadi ada yang lebih dari itu. :-O
Umumnya slot untuk ethernet (LAN Card) untuk WAN 2-4 slot, ada juga yang ditambah dengan slot USB dan lain-lain.


2. PC Router Load Balancer

Ya, terlihat dari istilah namanya model router ini, untuk menunjukkan bahwa Router Load Balancer ini adalah sebuah PC yang di install dengan OS yang memiliki fungsi khusus dan fitur-fitur yang lengkap untuk berfungsi sebagai Router Load Balancer. Contoh OS yang sering digunakan belakangan ini adalah Mikrotik RouterOS, Vyatta (termasuk distro turunan linux) maupun distro-distro linux yang lain.

Harga PC Router ini tentu bisa lebih murah dari jenis Router Load Balancer yang pertama, dengan menggunakan PC model lama sekelas PIII yang diinstall dengan OS khusus router seperti Mikrotik RouterOS, Vyatta atau yang lain, tentu relatif lebih murah namun kemampuannya tidak murahan karena bisa setara dengan model Router Load Balancer Built-in.


dengan MOBO PC+OS khusus Router kemampuannya bisa setara bahkan bisa lebih baik dari Router Built-in.

Dengan PC Router Load Balancing kita juga mampu menggabungkan bandwidth internet dengan berbagai macam media, seperti ADSL, 3G/3.5G/HSDPA, Cable TV, WiFi dan lain-lain.
Itulah sekilas tentang Router Load Balancer, sedangkan apabila rekan-rekan ingin melihat contoh bagaimana distro-disro OS untuk menghasilkan fungsi load balancer bisa coba mampir2 kesini :D

Load Balancing dengan Mikrotik
Load Balancing dengan Vyatta
Load Balancing dengan Ubuntu Linux


contoh besar bandwidth dari ISP dengan teknologi 3.5G (normal tanpa load balancing)


contoh hasil load balancing dari beberapa gateway internet dari ISP dengan media ADSL

Dari besar bandwdith di atas, coba anda bayangkan berapa besar bandwdith maksimum yang bisa dihasilkan dengan load balancing dari banyak gateway internet dari simulasi ini untuk disebar kepelosok.

masih ada satu cara lagi dari sekian banyak cara untuk menyalurkan bandwidth ke wilayah-wilayah yang sulit untuk mendapat kucuran akses internet broadband, yaitu dengan memanfaatkan fitur tunnel VPN.

sedikit penjelasan mengenai VPN

Kutip

VPN

Virtual Private Network  atau VPN adalah suatu jaringan pribadi yang dibuat dengan menggunakan jaringan publik, atau dengan kata lain menciptakan suatu WAN yang sebenarnya terpisah baik secara fisikal maupun geografis sehingga secara logikal membentuk satu netwok tunggal, paket data yang mengalir antar site maupun dari user yang melakukan remote akses akan mengalami enkripsi dan authentikasi sehingga menjamin keamanan, integritas dan validitas data.  VPN terbagi pada tipe Site to Site dan Remote Access. Tipe-tipe protokol yang digunakan antara lain IPSec, PPTP dan L2TP.

Untuk lebih jelas memahami dan melakukan konfigurasi dalam membuat VPN, mari kita ikuti studi kasus dibawah ini.

lebih lengkapnya silakan mampir ke sumber:
VPN Remote Access dan Site to Site dengan Vyatta

atau bisa juga baca ini:
Virtual Private Network (VPN) sebagai alternatif Komunikasi Data
Pada Jaringan Skala Luas (WAN)

Intinya begini, contoh:
Saya ingin mengalirkan bandwidth internet dari Bekasi sebesar 1 Mbps ke sebuah titik jaringan SOHO katakanlah sebuah kantor di wilayah Bandung. Saya tidak perlu membuat infrastruktur seperti simulasi-simulasi sebelumnya yang membangun BTS-BTS yang berfungsi sebagai repeater yang saling bersambung ke arah Bandung dari Bekasi, karena tidak ekonomis alias relatif sangat mahal dan tidak efisien. :D

Tapi saya menggunakan fasilitas tunnel VPN dari router yang saya miliki di jaringan BTS RT/RW-net di Bekasi via internet, untuk mengalirkan bandwidth internet. Karena hal ini maka klien SOHO di Bandung tetep harus memiliki jalur bandwidth internet paling tidak jalur internet lokal IIX minimal sebesar bandwidth yang akan disalurkan. Bisa dibilang sekilas sepertinya sama saja, karena sudah memiliki bandwidth internet kenapa harus dikirm lagi dari tempat lain karena tidak menambah bandwidth yg ada di titik klien? Memang terlihat tidak berguna tapi biasanya hal ini dimanfaatkan oleh para pelanggan yang hanya memiliki jalur internet lokal/IIX (Indonesia Internet eXchange) yang dedicated, karena bandwidth IIX harga jualnya umumnya jauh lebih murah dengan bandwidth internasional yang dedicated (simpelnya bandwidth dedicated itu kecepatan bandwidth internet upstream maupun downstream sama besar alias simetris). Jadi bandwidth untuk jalur internasional yang dikirim dari server VPN besarnya simetris untuk upstream dan downstream. Kurang lebih sekilas infonya seperti itu. :D

Menyalurkan Bandwidth internet ke seluruh Nusantara
Jadi intinya dengan fitur ini pada sebuah Router jaringan internet, mempunyai keuntungan untuk memiliki peluang menyalurkan bandwidth internet simetris dedicated ke tempat-tempat yang jauh. Walaupun server RT/RW-Net berada di Bekasi dan anda berada di pinggiran sungai Barito, Banjarmasin, atau berada di hutan Irian ataupun berada dekat pembuangan lumpur Lapindo di Sidoarjo, asalkan anda memiliki jaringan internet IIX, tinggal panggil nama ane 7 kali, dijamin insya Allah kagak bakal ada apa-apa :))


contoh konsep atau skenario komunikasi WLAN dari wilayah perkotaan ke pedesaan.

Itulah sedikit tambahan tentang membangun jaringan RT/RW-net super, ya mungkin istilah ini berlebihan, tapi gpplah hanya sekedar istilah yang gampang diingat saja. >:D<

sekian terima kasih dari saya dan selamat bereksperimen

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s