Kisah Inspiratif di Balik Pendirian Jasa Pengiriman Inovatif @Kirim_ID

Intan adalah founder Kirim.co.id yang pada akhir 2012 lalu melakukan rebranding dari nama sebelumnya d’Courier, di tahun 2012 Kirim.co.id mendapatkan pendanaan dari investor lokal.

Pengiriman dalam kota yang cepat dan terpercaya adalah masalah yang banyak dihadapi oleh ecommerce lokal, saya pernah beberapa kali ngobrol dengan pemilik ecommerce yang cukup besar, ia mengatakan kalau kurirnya biasanya sangat kesulitan menemukan alamat dari pembeli sehingga pengiriman terhambat.

Kirim.co.id adalah perusahaan yang memecahkan permasalahan ini. Berdiri sejak tahun 2008 dengan mencocokkan tanggal yang bagus untuk fengshui, siapa sangka di balik pendirian Kirim.co.id terdapat cerita yang sangat panjang di mana Intan berpindah-pindah tempat untuk menjalankan usaha ini, bisnis kurir adalah bisnis yang sulit untuk di-manage karena sifatnya yang padat karya dan berhadapan dengan para kurir yang tentu saja bukan lulusan universitas. Untuk menjalankan bisnis seperti ini membutuhkan kesabaran dan empati yang luar biasa.

Intan berbagi banyak hal dari pandangannya tentang investor, bagaimana expertise di vertical niche courier membawanya pada posisi sekarang sampai pandangannya tentang startup yang sukses seperti apa. (sejujurnya , ini salah satu tulisan tersulit yang saya buat karena Intan berbicara sangat cepat dan saya biasanya tidak ingin kehilangan satu detil pun dari apa yang disampaikan oleh founder).

 

Bisa sih kita gaji para kurir ini dengan rendah, mereka juga mau, tapi terus kamu nggak didoain sama  mereka gitu ?

Bisa dijelaskan siapakah Intan Saraswati?

Background saya awalnya adalah courier industry. Di Fedex, benar-benar memulai dari awal sekali, di bagian customer service sekitar tahun 2004-2005. Saya sendiri kuliah tahun 1998, kemudian magang di berbagai tempat. Dari sanalah saya belajar banyak soal kurir. Untuk customer service sendiri memang kita dituntut untuk mengerti secara detail dari sisi operation dan sebagainya. Jadi, saya benar-benar mempelajari hal tersebut di Fedex. Dari sana, saya di-challenge untuk menjadi AE. Lalu, pindah ke DHL pada tahun 2004-2005 . Total sekitar sembilan tahun bergelut di dunia courier.

Saya bekerja di Fedex hanya sekitar dua tahun, sisanya di DHL. Banyak hal yang saya pelajari, apalagi dalam sebuah perusahaan besar pastinya sudah memiliki sistem yang berjalan secara penuh, produk juga sudah berjalan. Pada saat itu mungkin saya yang terlalu kreatif. Dulu, karena saya menghandle banking customers, sebagai contoh saya deals dengan HSBC atau Citibank, klien yang sudah global contract harus menggunakan DHL.

Tiba-tiba mereka meminta dokumen dikirimkan dari Kelapa Gading ke Bapindo dalam waktu dua jam saja. Sementara DHL kan tidak bisa, paling tidak memerlukan waktu satu hari. Hal tersebut yang di-challenge kepada saya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Untungnya posisi saya saat itu di DHL membuat saya lebih bebas untuk bisa berkreasi dan menciptakan solusi khusus untuk customer. Mulailah kita kembangkan project2 tertentu. Biasanya kita bekerja sama dengan vendor-vendor dan mencari kurir lokal dan kita pekerjakan. Sempat ada project besar DHL di HSBC, kalau ada kartu kredit kan ada point rewards yang ditukar voucher, di mana kita memegang warehousenya. Di sana, saya menghandle lima belas perusahaan kurir dan mereka secara performance masih bisa dibilang kurang memuaskan. Mulai dari reporting dan sebagainya tidak dilakukan dengan baik. Sampai pada akhirnya saya mengerti kalau ingin memiliki kurir yang sesuai, kita harus membentuk mereka dan melakukan sejumlah hal. Tapi, kemudian saya berpikir bahwa saya selalu mengajari orang lain karena memiliki knowledge di sini, marketnya besar sekali, harusnya banyak yang bisa dilakukan tapi tidak banyak yang mengerti hal ini. Kenapa saya tidak mencoba untuk membuat sendiri?”. Dari situlah saya memutuskan untuk keluar dari DHL dan membuat perusahaan sendiri.

Apakah anda masih di DHL? Belum pindah ke Sitti ya? 

Belum. Jadi, pada akhirnya saya memutuskan keluar dari DHL karena mau membuat courier service yang “ini” (Kirim.co.id). Sebenarnya, niat saya keluar dari DHL adalah untuk serius mengerjakan company ini. Apalagi, tidak diperbolehkan untuk membuat perusahaan sendiri. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar. Tapi, yang namanya startup adalah di mana gaji saya digunakan untuk membayar kurir, misalnya saya tidak bekerja sama sekali sementara pemasukannya masih belum terlalu banyak, maka akan sulit. Kemudian, saya pun ditawari oleh Sitti. Saya pun menyetujui dan mengatakan bahwa saya juga memiliki perusahaan (Kirim.co.id) dan bekerja di Sitti sambil menjalankan Kirim.co.id.

Di Sitti, saya belajar banyak e-commerce. Di sini, saya melihat bahwa orang-orang e-commerce tidak mengetahui dunia pengiriman, logistik, dan sebagainya. Mereka melihat logistik itu tidak mudah, yang menurut mereka sulit adalah hal mudah bagi saya. Jadi, saya memberikan solusi dan kemudian mengembangkan apa yang saya rencanakan. Sampai pada akhirnya, saya merasa kerjaannya nggak selesai-selesai kalau saya masih tidak focus di satu tempat. Akhirnya saya memutuskan keluar juga dari SITTI dan terjun dengan dua kaki di dunia entrepreneur.

Berarti sudah keluar dari Sitti dan DHL juga ya?

Sudah dari dulu. Awalnya, saya keluar dari Sitti memiliki keinginan untuk mendapatkan investor terlebih dahulu supaya bisa jalan. Tapi, kalau sistem atau kantor tidak selesai-selesai, saya pun memutuskan untuk harus bisa jalan ada ataupun tidak adanya investor. Sempat vakum empat bulanan lebih, sampai akhirnya saya baru mendapatkan investor. Investor saya sendiri, Angel Investor, posisinya lebih memberikan advice ke kita. Selama ini, saya sendiri. Tidak ada partner yang bisa diajak bertukar pikiran. Lalu, saya pun mengajak co-founder, Eriawan (@Eriawane). Dia rekan saya ketika saya masih di DHL. Dia memiliki capability di bidang operation. Memang, sebenarnya harus ada orang yang bisa membantu saya namun juga mengerti courier industry. Setelah ada investor, Mulailah kita berbenah dan menjalani dengan serius, dalam arti memiliki kantor yang tetap, membangun sistem, kurir juga mulai diberikan seragam, diberikan motor dan sebagainya. Posisi yang lain juga sudah terisi. Sementara dulu, saya hanya bertiga. Sekarang, sudah mulai banyak dan timnya sudah komplit sehingga menjalankannya pun lebih mudah.

Sekarang timnya ada berapa?

40 orang. Kurirnya ada 25 orang. 15 sisanya. Sales marketing hanya dua orang. Finance ada dua orang, satu orang di bagian HR, lima customer service, sisanya adalah orang-orang operation (dispatcher). Ya, timnya memang terdiri dari orang-orang yang bekerja di bagian-bagian penting saja.

Bagaimana anda melihat dunia kirim-mengirim ini? Lalu, masalah apa yang sebenarnya dihadapi oleh e-commerce di Indonesia?

E-commerce, saya melihat gap teknologi yang cukup besar. Dari sisi e-commerce, mereka sudah terbiasa dengan segala macamnya menggunakan teknologi. Mereka berjualan online. Sekarang, kalau kita mau mengirim barang, pastinya kita mendapatkan waybill atau surat tanda bukti pengiriman. Sehari, oke untuk menulis satu atau sepuluh tanda bukti pengiriman. Tapi, kalau sudah sampai ribuan tentunya rusuh. Kalau untuk perusahaan kurir yang besar, DHL atau Fedex, mereka sudah memiliki program seperti itu. Jadi, anda ketik maka nanti akan keluar hasilnya tanpa harus menulis dengan tangan. Kalau yang lokal masih belum banyak memiliki program yang seperti itu. Mungkin, ada satu atau dua. Tapi, biasanya mereka tidak membagikan itu kepada customer yang levelnya belum terlalu besar. Pekerjaan manualnya masih banyak. Itu masalah yang pertama.

Yang kedua, mungkin masalah tracking. Sekarang, kalau kita mau mengirim barang, misalnya melalui JNE, dan kita ingin melihat barang yang kita kirim sudah sampai dimana, tentunya kita perlu membuka website JNE. Padahal, sebenarnya hal-hal tersebut dapat di-implant masuk ke sana. Hanya saja perusahaan-perusahaan besar seperti DHL, terkadang mereka sudah memiliki sistem tersebut namun mereka tidak bisa membuka link yang akan diberikan kepada customers, kecuali customer yang revenuenya besar sekali.

Saya melihat ada gapnya yang besar. Sebenarnya bukanlah masalah yang sulit, saya sendiri memiliki solusi untuk memecahkannya. Akhirnya, saya mengumpulkan rekan-rekan di bidang kurir (selain Kirim.co.id yang saya kerjakan). Jadi, saya menggunakan service mereka untuk tarif domestik dan internasional. Di tengah, saya membuat API.

Passionnya Intan sebenarnya apa ?

Delivery.

Rasanya kok tidak keren ya kok passion di dunia pengiriman.

Mungkin juga karena saya selalu merasa happy kalau masalah dari customer selesai.

Yang terpenting, solusinya sekarang adalah kalau hanya menjual pengiriman atau kurirnya saja sudah banyak. Almost every courier company juga seperti itu. Tapi, kalau yang anda jual adalah solusi, customer anda maka akan lebih loyal karena mereka mungkin merasa pernah ditolong. Itulah pengalaman yang saya dapatkan dulu. Jadi, selama saya memegang banking karena biasanya mereka meminta apapun yang pada akhirnya saya mampu memenuhinya. Setelah itu, merekalah yang mencari saya karena mereka merasa puas. Kalau saya sendiri mengatakan bahwa kirim.co.id adalah solusi pengiriman untuk pribadi ataupun e-commerce.

Passion-nya itu mungkin ya … “memecahkan masalah.”

sumber: startupbisnis

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s