Mendidik Global Consultant Baru

Di buku The Innovator’s DNA terbitan Harvard Business Review press, team pengarang menggunakan ide inovasi yang disruptive untuk menunjukkan bagaimana orang-orang dapat melatih skill yang diperlukan untuk mewujudkan suatu ide yang menimbulkan pengaruh besar.

Dengan cara melakukan penelitian dan mengamati tingkah laku orang yang sangat inovatif di dunia—dari para pemimpin perusahaan seperti Amazon dan Apple sampai ke mereka yang memimpin perusahaan Google, Skype, dan Virgin Group—pengarang buku tersebut menjelaskan lima skill penemuan yang membedakan entrepreneur dan executive yang inovatif dibandingkan manager biasa: Questioning, Observing, Networking, Experimenting dan Associating.

Questioning. Orang yang inovatif merupakan orang yang selalu bertanya dan selalu bersemangat untuk mempertanyakan lebih lanjut. Mereka sering menantang ide-ide yang sudah ada.

Observing. Orang yang inovatif mengamati dunia dan lingkungan di sekitar mereka—termasuk customer, produk, servis, teknologi, dan perusahaan—dan hasil pengamatan ini memberi mereka intuisi dan ide-ide untuk melakukan sesuatu dengan cara-cara baru.

Networking. Orang yang inovatif menghabiskan waktu dan tenaga untuk meneliti dan menguji ide-ide mereka dengan menggunakan jaringan sosial yaitu orang-orang yang memiliki latar belakang dan sudut pandang yang berbeda-beda.

Experimenting. Terakhir, orang yang inovatif selalu mencoba mendapat pengalaman baru dan menguji ide mereka. Mereka mengunjungi tempat-tempat baru, melakukan hal baru, mencari informasi baru, dan melakukan pengujian untuk belajar hal baru.

Jika ke empat skill di atas disebut kemampuan dalam berperilaku, orang yang inovatif menggunakan kemampuan nalar yang kita sebut “associational thinking” atau secara singkat “associating.” Associating terjadi ketika otak berusaha melakukan analisa untuk menggabungkan semua masukan menjadi satu kesatuan. Kemampuan ini membantu orang yang inovatif dalam menemukan arahan baru dengan cara membuat hubungan antara pertanyaan-pertanyaan, berbagai masalah dan ide yang kelihatannya seperti tidak berhubungan.

Associating adalah menghubungkan titik-titik.

Dan skill yang diperlukan untuk menjadi Global Consultant tidak jauh berbeda dengan ulasan di atas. Global Consultant memang harus kreatif dan inovatif ketika harus berurusan dengan customer yang berbeda-beda di situasi yang berbeda-beda pula.

Pertanyaannya adalah: mungkinkah kita mendidik seseorang untuk mendapat skill-skill tersebut? Apakah sistem pendidikan kita yang sekarang bisa membangun kebiasaan dari mempertanyakan (Questioning), mengamati (Observing), membentuk jaringan sosial (Networking), melakukan eksperimen (Experimenting) dan menggabungkan (Associating)? Bisakan institusi pendidikan kita menghasilkan Global Consultant?

Kita bisa menghabiskan waktu yang lama untuk memperdebatkan jawaban dari pertanyaan di atas. Tapi saya yakin ada satu hal yang semua orang bisa setujui: sistem pendidikan kita yang sekarang dirancang dengan konsep standarisasi. Sistem ini menganggap semua orang sama. Sistem pendidikan yang sekarang mengasumsikan satu metode pengajaran dapat digunakan untuk semua orang.

Dan tantangan terbesar adalah ketika para pelajar meyakini bahwa mereka harus mengikuti sistem yang ada untuk mendapat hadiah, yaitu hanya untuk bisa lulus dari fase yang sekarang untuk menuju fase berikutnya dalam hidup. Mereka tidak mempertanyakan. Mereka tidak mengamati. Mereka tidak merasa perlu untuk membangun jaringan sosial malah saling berkompetisi satu sama lain untuk mendapat nilai yang tertinggi. Mereka tidak menggunakan kesempatan untuk melakukan berbagai eksperimen. Mereka gagal untuk menggunakan semua skill perilaku tersebut sebagai cara untuk membentuk pola pikir yang mampu menghubungkan, walaupun akhirnya mereka mendapat ijazah di hari kelulusan.

Ada debat lain yang membandingkan manfaat dari mendapat ijazah di sekolah atau mengambil sertifikasi profesional seperti CCIE. Jawaban saya sangat sederhana: jika mereka yang mengambil pendidikan formal dan juga mereka yang mengambil jalur sertifikasi profesional melakukan itu semua hanya untuk bisa lulus program tersebut, maka keduanya tidak akan memperolah skill yang diperlukan untuk menjadi Global Consultant. Mereka akan menemukan setelah lulus dan mendapat ijazah atau sertifikat bahwa mereka masih kekurangan skill yang sebenarnya untuk bisa berkompetisi. Mereka tidak akan mampu untuk bisa ikut di kompetisi global yang sudah umum hari ini.

Kita membutuhkan cara baru dalam belajar.
Kita harus membuat cara baru untuk mengajarkan dan melatih skill untuk menjadi Global Consultant.

Cara baru dalam belajar ini harus menganggap setiap orang adalah unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang harus dibiarkan untuk belajar dengan kecepatan masing-masing. Teknologi yang tepat harus digunakan untuk membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan juga menantang, dan mendorong orang-orang yang belajar untuk mempertanyakan, mengamati, membentuk jaringan sosial, melakukan eksperimen dan pada akhirnya menggabungkan semua masukan dan menghubungkan semua pengalaman yang didapat untuk bisa menghasilkan ide-ide baru.

Apakah institusi pendidikan seperti ini ada?
Apakah mungkin untuk mendidik seseorang menjadi Global Consultant?

Bagaimana jika saya beritahu ada mekanisme belajar yang baru yang menawarkan hal-hal berikut:

Real World Application – material yang diajarkan sangat relavan dengan kehidupan nyata. Sistem ini memberikan ide dari suatu solusi yang komplit yang dibangun dari semua bagian-bagian terpisah yang diajarkan.

Customized – materi harus disesuaikan untuk memastikan materinya relavan dengan aplikasi di kehiduapan nyata, dan juga memberi kesempatan buat semua orang untuk belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda. Sistem ini harus tersedia kapan saja, di mana saja, dan masih tetap mendorong proses interaksi antara orang-orang yang terlibat.

Experiment – sistem pendidikan ini tidak hanya mengajarkan materi seperti yang tertulis di buku, tapi juga mendorong orang-orang untuk menantang materi tersebut dengan melakukan pengecekan dengan referensi dari berbagai sumber, dan juga memberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan cara melakukan banyak latihan di dalam lab.

Project Experience – terakhir dan yang terpenting, setiap orang akan ditempatkan di tengah-tengah kondisi simulasi project untuk memberikan pengalaman bekerja dalam team, untuk melatih skill komunikasi dan juga membentuk pola pikir yang berorientasi ke customer.

Tentunya semua hal yang di atas harus bisa diseimbangkan dengan keterbatasan dari sisi finansial dan juga waktu.

Saya tidak bilang bahwa ini hal yang mudah.
Tapi saya yakin ini hal yang mungkin.

Dan ini alasan mengapa ide ini disruptive

sumber : Himawan Nugroho